PROBOLINGGO – Generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam menjaga agar nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti sebatas pengetahuan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI di Probolinggo, Jumat (11/9/2026).
Di hadapan para peserta, termasuk kalangan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, mengajak anak muda untuk tidak ragu menyampaikan gagasan maupun persoalan yang mereka temui di tengah masyarakat.
Menurutnya, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar empat konsep yang perlu dihafalkan. Lebih dari itu, nilai-nilai tersebut harus menjadi pijakan dalam mengambil sikap dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
«“Saya ingin generasi yang lebih muda dari saya lebih proaktif mengambil peran, harus lebih speak up. Kalau ada regulasi negara yang sudah terlanjur disahkan, kita harus berani berbicara apakah memungkinkan adanya ruang revisi,” kata Ning Lia.»
Ia menilai keberanian menyampaikan pendapat menjadi bagian penting dari kehidupan demokrasi. Namun, keberanian tersebut tetap harus disertai tanggung jawab dan dilakukan melalui jalur yang konstitusional.
Dalam kesempatan itu, sejumlah penyelenggara pemilu juga hadir, di antaranya unsur Bawaslu Provinsi Maluku, Bawaslu Kabupaten Probolinggo, KPU Kabupaten Probolinggo, dan KPU Kota Probolinggo.
Ning Lia juga menyoroti posisi organisasi mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat yang dapat ikut menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Baginya, mahasiswa tidak hanya memiliki ruang untuk belajar di lingkungan kampus, tetapi juga mempunyai kesempatan untuk melihat lebih dekat persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya menerima pengaduan masyarakat terkait dugaan persoalan mafia tanah. Cerita tersebut, kata Ning Lia, terasa dekat karena keluarganya juga pernah menghadapi persoalan pertanahan yang hingga kini masih berproses secara hukum.
«“Tadi malam saya menerima tamu dari masyarakat yang menjadi korban mafia tanah atau mafia bersertifikat. Saya pun juga korban, orang tua saya menjadi korban dan sampai sekarang masih berproses hukum,” ujarnya.»
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi Ning Lia bahwa persoalan masyarakat membutuhkan kepedulian banyak pihak, termasuk generasi muda.
Ia berharap mahasiswa tidak memilih diam ketika menemukan persoalan yang menyentuh kepentingan publik. Kritik, gagasan, maupun dorongan perubahan regulasi, menurutnya, dapat disampaikan secara konstruktif dengan tetap menghormati mekanisme hukum dan konstitusi.
“Semua harus benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat,” tuturnya.
Bicara Pentingnya PPHN
Dalam sosialisasi tersebut, Ning Lia juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) dalam menjaga kesinambungan pembangunan nasional.
Menurutnya, arah pembangunan jangka panjang dibutuhkan agar program-program strategis negara dapat terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan nasional.
“Jangan sampai ketika berganti presiden, pembangunan yang sudah dirancang kemudian tidak dilanjutkan. Di situlah pentingnya PPHN,” katanya.
Ning Lia menambahkan, politik seharusnya tidak hanya dipandang sebagai jalan untuk meraih jabatan atau kepentingan pribadi.
Sebaliknya, politik idealnya menjadi ruang untuk mengambil posisi strategis sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Melalui Sosialisasi Empat Pilar tersebut, ia berharap generasi muda semakin percaya diri mengambil peran di ruang publik, memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial, serta berani menyampaikan gagasan untuk perbaikan.
Bagi Ning Lia, keberanian anak muda untuk bersuara bukan sekadar tentang seberapa keras mereka menyampaikan kritik. Yang lebih penting adalah bagaimana suara tersebut lahir dari kepedulian dan diarahkan untuk menghadirkan perubahan yang tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan.
(Anil)










