SURABAYA Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertanahan oleh Komite I DPD RI di Jawa Timur berlangsung serius dan penuh substansi. Namun, suasana rapat menjadi lebih cair ketika Senator asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyelipkan sejumlah pantun dalam sambutannya.
Kunjungan kerja Komite I DPD RI tersebut digelar di Kantor Gubernur Jawa Timur, Senin (14/9/2026). Agenda utama pertemuan yakni menghimpun masukan berbagai pihak sebagai bahan penyusunan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU Pertanahan.
Sebagai senator tuan rumah, Lia Istifhama yang akrab disapa Ning Lia menyambut rombongan dengan gaya komunikasinya yang khas. Pantun menjadi bagian dari sambutan untuk membangun suasana akrab sebelum forum memasuki pembahasan substansi.
Salah satu pantun yang disampaikan Ning Lia berbunyi:
“Kalau ada sumur di ladang,
Boleh kita menumpang mandi.
Kalau ada umur yang panjang,
Boleh kita berjumpa lagi.”
Suasana semakin hangat saat Ning Lia memberikan pantun khusus kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono yang menerima rombongan Komite I DPD RI.
“Pak Sekda Adhy yang terpandang nan baik hati,
Terima kasih atas jamuan, Masyaallah, kenyang sekali.”
Tak berhenti di situ, Ning Lia kembali menyampaikan pantun yang mengangkat pesan persahabatan dan kebersamaan.
“Jauh di mata, dekat di hati,
Kalau sudah dekat jangan disakiti.
Sahabat senator dan hadirin yang kami cintai,
Semoga sukses selalu menyertai.”
Menurut Ning Lia, penggunaan pantun bukan sekadar hiburan dalam forum resmi. Cara tersebut menjadi bagian dari komunikasi untuk membangun kedekatan dan menciptakan suasana yang lebih nyaman di tengah pembahasan agenda yang cukup serius.
Menutup sambutannya, Ning Lia kembali mengajak para senator dan tamu undangan untuk menikmati suasana Jawa Timur melalui sebuah pantun.
“Cinta diukur karena perbuatan,
Karena memendam hanya terasa berat.
Jika terasa Jawa Timur menyenangkan,
Segeralah kembali sebelum terlambat.”
Pantun-pantun tersebut disambut hangat peserta pertemuan. Wakil Ketua Komite I DPD RI Hj. Ade Yuliasih, SH., M.Kn., bahkan memberikan apresiasi terhadap gaya komunikasi Ning Lia.
“Di setiap acara, Ibu Lia ini selalu menyelipkan pantun. Selain senator, ternyata Bu Lia juga penyair,” ujar Ade.
Lia Istifhama memang kerap menggunakan pendekatan komunikasi yang ringan dan puitis dalam berbagai kegiatan publik. Meski demikian, suasana santai tersebut tidak mengurangi fokus forum terhadap agenda utama, yakni pembahasan RUU Pertanahan.
Dalam pertemuan itu, Komite I DPD RI menerima berbagai pandangan dan masukan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kantor Wilayah Pertanahan Provinsi Jawa Timur, serta pemangku kepentingan lainnya.
Masukan tersebut nantinya menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan DIM RUU Pertanahan agar regulasi yang disusun dapat lebih responsif terhadap persoalan di daerah.
Kegiatan dipimpin Wakil Ketua Komite I DPD RI Hj. Ade Yuliasih, SH., M.Kn., bersama Senator tuan rumah Lia Istifhama. Sejumlah anggota Komite I DPD RI turut hadir dalam kunjungan kerja tersebut.
Selain jajaran DPD RI, forum juga melibatkan unsur Forkopimda Jawa Timur, Kantor Wilayah Pertanahan Provinsi Jawa Timur beserta jajaran, serta perangkat daerah terkait.
Pembahasan RUU Pertanahan diharapkan mampu menghasilkan regulasi yang memberikan kepastian hukum, perlindungan terhadap masyarakat, sekaligus mengakomodasi kebutuhan daerah.
Di tengah pembahasan regulasi yang sarat persoalan dan kepentingan tersebut, pantun Ning Lia menjadi warna tersendiri. Gaya komunikasinya mampu menciptakan keakraban di ruang rapat, sekaligus menunjukkan bahwa pembahasan isu serius tetap dapat berlangsung dalam suasana humanis dan komunikatif.
(Anil)










