RADARTIMES.ID SURABAYA — Di balik sejarah panjang Surabaya, tersimpan kisah tentang tokoh spiritual dan garis keturunan ulama yang hingga kini masih menjadi bagian dari cerita masyarakat. Salah satunya adalah Raden Ariyanto Suseno atau Gus Yanto, yang dikenal sebagai salah satu sesepuh dan disebut sebagai generasi ketujuh trah Sunan Botoputih.
Sosok Sunan Botoputih sendiri dikenal dalam tradisi masyarakat Surabaya dengan nama Pangeran Lanang Dangiran atau Mbah Brondong. Tokoh tersebut disebut pernah menjadi Adipati Surabaya sekaligus ulama yang memiliki pengaruh besar pada masanya.
Kompleks makamnya di kawasan Pegirian, Surabaya, hingga kini menjadi salah satu tempat yang banyak didatangi peziarah.
Dalam kisah yang berkembang mengenai Gus Yanto, garis keturunannya disebut memiliki hubungan dengan Pangeran Kedawung atau Pangeran Tawangalun dari Blambangan. Silsilah tersebut kemudian dikaitkan dengan garis keturunan bangsawan Jawa yang bersambung hingga era kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
Nama Gus Yanto kembali menjadi perhatian ketika memasuki momentum Pilpres 2014. Kala itu, persaingan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto berlangsung sangat ketat dan menjadi perhatian nasional.
Di tengah dinamika politik tersebut, Gus Yanto disebut pernah menyampaikan sebuah prediksi menggunakan istilah atau sanepan Jawa. Ia menggambarkan calon pemimpin Indonesia dengan ungkapan “Petruk Dadi Ratu”, sebuah kiasan pewayangan yang menggambarkan sosok yang sebelumnya berada di luar lingkaran kekuasaan kemudian menjadi pemimpin.
“Petruk dadi ratu atau Petruk bermahkota,” demikian ungkapan yang dikaitkan dengan prediksi Gus Yanto kala itu.
Kiasan tersebut kemudian oleh sejumlah pihak dikaitkan dengan sosok Joko Widodo. Prediksi itu dinilai menarik karena saat itu Prabowo Subianto memiliki pengalaman politik dan latar belakang militer yang kuat serta menjadi salah satu kandidat yang diperhitungkan.
Gus Yanto, dalam kisah yang beredar, tetap pada pandangannya. Ia melihat adanya tanda-tanda tertentu yang menurut keyakinan spiritualnya menunjukkan arah berbeda dalam kontestasi politik nasional.
Tidak hanya melalui kiasan Petruk Dadi Ratu, Gus Yanto juga mengaku memperoleh isyarat metafisik berupa kibaran bendera atau polong dengan tulisan aksara Jawa kuno atau Hanacaraka. Menurut penafsirannya, simbol tersebut memiliki keterkaitan dengan nama Joko Widodo.
Prediksi tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil Pilpres 2014. Berdasarkan hasil resmi penghitungan suara, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla ditetapkan sebagai pemenang pemilihan presiden periode 2014–2019.
Kisah itu kemudian menjadi bagian dari cerita spiritual-politik yang terus diperbincangkan, khususnya mengenai bagaimana seorang tokoh yang memiliki latar belakang tradisi kejawen membaca perubahan arah politik melalui simbol, sanepan, dan keyakinan metafisik.
Terlepas dari benar atau tidaknya tafsir spiritual tersebut, kisah Gus Yanto menunjukkan bahwa perjalanan politik Indonesia juga kerap bersinggungan dengan budaya, tradisi, dan kepercayaan masyarakat yang telah berkembang selama berabad-abad.
Catatan: Kisah mengenai penglihatan metafisik dan ramalan tersebut merupakan klaim atau cerita yang dikaitkan dengan Gus Yanto, bukan fakta politik yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
TOK TOTOK
















