Menyembuhkan Raga, Menyentuh Langit: Kisah Polisi Penabung Pahala di Jalan Tambak Asri

KESEHATAN, NEWS, POLRI100 Dilihat

SURABAYA RADARTIMES.ID — Ketika sebagian orang memilih beristirahat setelah seharian menjalankan tugas, Aiptu Affan Hermansyah justru membuka pintu rumahnya bagi mereka yang datang membawa keluhan dan harapan.

Di balik seragam cokelat dan ketegasan seorang anggota Kepolisian, tersimpan sisi lain yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Di luar jam dinas, Affan mendedikasikan waktunya membantu warga yang mengalami gangguan kesehatan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Rumah sederhana di Jalan Tambak Asri Gang 26 Nomor 22, Surabaya, menjadi tempat warga datang mencari pertolongan. Tidak ada papan tarif, tidak ada biaya pendaftaran, apalagi kewajiban membayar.

Semua diberikan secara cuma-cuma.

Affan yang bertugas sebagai Panit Binmas di Polsek Pabean Cantikan, wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Perak, menjadikan aktivitas tersebut sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Keluhan yang datang beragam. Mulai dari pegal dan nyeri ringan hingga keluhan saraf terjepit dan penyakit yang telah lama dirasakan warga.

Ketika Ketukan Pintu Menjadi Panggilan Nurani

Sore itu, azan Magrib baru saja terdengar.

Affan baru tiba di rumah setelah menjalankan tugas. Tubuhnya menyimpan lelah setelah seharian mengabdi. Namun, belum sempat benar-benar beristirahat, sebuah ketukan terdengar dari balik pintu.

Seorang perempuan lanjut usia berdiri di sana. Ia datang bersama suaminya yang berjalan tertatih. Sang suami mengalami gangguan saraf terjepit yang sudah cukup lama diderita.

Wajah pasangan lansia itu menunjukkan kecemasan. Mereka telah berusaha mencari pengobatan, tetapi keterbatasan biaya membuat upaya tersebut tidak selalu mudah.

Affan tidak banyak bertanya.

Ia mempersilakan keduanya masuk.

Ruang tamu rumahnya yang sederhana berubah menjadi tempat pengobatan. Dengan penuh kehati-hatian, Affan membantu menangani keluhan yang dirasakan sang kakek.

Tangannya bekerja perlahan, sementara lantunan zikir terdengar dari bibirnya.

Bagi Affan, dirinya hanyalah perantara. Kesembuhan, menurut keyakinannya, tetap berada di tangan Allah SWT.

Tidak ada uang yang diminta.

Tidak ada amplop yang disodorkan.

Tidak ada kotak pembayaran.

“Bayarlah dengan Doa”

Setelah selesai mendapatkan bantuan, sang nenek tampak kebingungan.

Ia kemudian merogoh saku bajunya yang tipis.

“Pak Polisi, berapa yang harus kami bayar?” tanyanya lirih.

Affan justru menggenggam tangan perempuan tua itu.

“Bayarlah dengan doa, Nek. Doakan saya selalu diberi kesehatan agar bisa terus membantu sesama. Upah saya sudah disiapkan Gusti Allah di akhirat nanti,” jawab Affan.

Jawaban sederhana itu membuat suasana seketika berubah.

Sang nenek tak mampu menyembunyikan air matanya.

Bukan karena jumlah uang yang harus dibayar, melainkan karena ia menemukan sesuatu yang mungkin lebih mahal daripada uang: ketulusan.

Di balik sosok polisi yang selama ini identik dengan ketegasan dan penegakan hukum, ternyata ada ruang luas untuk kemanusiaan.

Menabung Pahala di Balik Pintu Rumah

Bagi Affan, membantu warga bukan sekadar aktivitas tambahan setelah jam dinas. Ada keyakinan yang membuatnya terus melakukannya.

Ia percaya bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan memiliki nilai di hadapan Tuhan.

Keringat yang keluar ketika membantu warga, waktu yang ia sisihkan setelah menjalankan tugas, hingga tenaga yang diberikan tanpa meminta imbalan, semuanya ia anggap sebagai bagian dari amal.

Ia tidak mengejar tepuk tangan.

Tidak pula berharap balasan materi.

Jalan yang dipilihnya justru jalan sunyi.

Jalan yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi dirasakan oleh mereka yang pernah mengetuk pintu rumahnya dalam keadaan sakit dan pulang membawa harapan.

Seragam Polisi bagi Affan bukan hanya simbol kewenangan. Seragam itu juga menjadi pengingat bahwa keberadaan seorang anggota Polri semestinya memberikan rasa aman dan manfaat bagi masyarakat.

Dan ketika jam dinas berakhir, pengabdian itu ternyata belum selesai.

Di Jalan Tambak Asri, sebuah pintu rumah sederhana tetap terbuka.

Bagi siapa saja yang datang membawa sakit, Affan berusaha menyambutnya dengan kepedulian.

Sebab baginya, menyembuhkan raga adalah ikhtiar.

Membantu sesama adalah pengabdian.

Sedangkan pahala, ia memilih membiarkannya menjadi urusan Tuhan.

TOK TOTOK ABA GAUOL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *