Sebulan di Pesantren, Ning Lia Dengarkan Cerita Mahasiswa Baru Belajar Mandiri

NEWS, PENDIDIKAN, SOSIAL79 Dilihat

SURABAYA RADARTIMES.ID — Sebulan tinggal di pesantren ternyata menghadirkan banyak cerita bagi mahasiswa baru. Mulai dari beradaptasi dengan lingkungan, mencari teman, mengurus kebutuhan sendiri, hingga belajar sabar saat harus mengantre kamar mandi.

Cerita-cerita tersebut disampaikan langsung kepada Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, saat menemui mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya.

Dalam pertemuan itu, Ning Lia tidak datang dengan suasana formal sebagai seorang senator. Ia memilih berinteraksi layaknya seorang kakak yang ingin mengetahui pengalaman adik-adiknya setelah sebulan meninggalkan keluarga dan mulai menjalani kehidupan mandiri.

Percakapan berlangsung santai. Ning Lia lebih banyak menggali cerita mahasiswa, mulai dari proses beradaptasi, kehidupan di asrama, pertemanan, aktivitas sehari-hari, hingga berbagai pengalaman kecil yang mereka alami selama tinggal di pesantren.

Salah satunya dialami Widya Alfa Rohman, mahasiswa baru asal Bojonegoro. Ia mengaku satu bulan pertama di asrama memberikan banyak pengalaman baru, terutama karena harus menjalani rutinitas yang berbeda setelah berada jauh dari daerah asal.

“Pengalaman pertama kali saya berada di asrama ini benar-benar mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Karena saya juga dari luar Kota Surabaya, memang ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Widya.

Namun, kehidupan mandiri bukan sesuatu yang terlalu sulit bagi Widya. Sebelum menjadi mahasiswa, ia pernah menjalani kehidupan pesantren sehingga sudah terbiasa mengurus berbagai keperluan pribadi.

“Alhamdulillah tidak kesulitan karena sebelumnya saya sudah pernah mondok. Jadi kegiatan seperti mencuci baju sendiri sudah sering saya lakukan,” ujarnya.

Menurut Widya, tantangan yang justru membutuhkan penyesuaian adalah bahasa. Perbedaan kebiasaan komunikasi antara Bojonegoro dan Surabaya membuatnya harus beradaptasi dengan cara berbicara yang digunakan dalam lingkungan barunya.

“Mungkin yang sedikit menjadi kesulitan itu bahasa. Ada sedikit perubahan bahasa dari Bojonegoro ke Surabaya,” tuturnya.

Pengalaman serupa juga diceritakan Fahima Nudinia. Mahasiswa baru tersebut mengaku salah satu hal menyenangkan selama tinggal di asrama adalah bertambahnya teman.

“Teman-temannya baik-baik. Interaksi dengan teman juga menyenangkan,” ungkap Fahima.

Ketika ditanya mengenai kendala menjalani kehidupan mandiri, Fahima mengaku tidak menghadapi persoalan besar. Pengalaman mondok sebelumnya membuat proses adaptasi berjalan relatif mudah.

Meski demikian, ada satu rutinitas sederhana yang menurutnya cukup terasa, yakni ketika harus berbagi fasilitas dengan penghuni asrama lainnya.

“Kalau kesulitan tidak terlalu, karena dulu pernah mondok juga. Tapi yang paling terasa itu antre, terutama antre kamar mandi,” kata Fahima.

Cerita ringan tersebut menjadi bagian dari proses mahasiswa baru mengenal kehidupan di luar keluarga. Selama berada di pesantren, mereka tidak hanya menjalani aktivitas perkuliahan, tetapi juga belajar mengatur waktu, mengurus kebutuhan pribadi, berbagi fasilitas, membangun relasi dan beradaptasi dengan mahasiswa dari berbagai daerah.

Bagi Ning Lia, mendengarkan pengalaman mahasiswa secara langsung menjadi cara untuk memahami bagaimana generasi muda menjalani fase awal kehidupan mandiri.

Pengalaman sederhana seperti mencuci pakaian sendiri, menyesuaikan bahasa, membangun pertemanan hingga belajar mengantre, menurutnya merupakan bagian dari proses pembentukan karakter.

Sebulan mungkin masih menjadi tahap awal. Namun, dari berbagai pengalaman kecil itulah mahasiswa mulai belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri sekaligus memahami arti hidup bersama orang lain.

(Anil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *